Mekah di pengujung Desember adalah sebuah altar raksasa yang dibasuh angin musim dingin. Udara yang menusuk pori-pori seolah mencoba membekukan waktu di bawah langit beludru hitam yang pekat. Jutaan manusia bergerak laksana semut-semut putih yang mencari jalan pulang, dengan uap napas yang mengepul tipis dari bibir yang mendaraskan zikir. Namun bagiku, kemegahan ini hanyalah sunyi yang riuh. Di tengah jutaan orang yang merasa telah sampai ke rumah Tuhan, aku justru merasa menjadi musafir yang kehilangan alamat untuk pulang.

Ibu telah pergi, membawa serta seluruh peta dan kompas duniaku.
Ingatanku tersangkut pada era 80-an, di sebuah rumah dinas milik Kakek. Itulah satu-satunya tempat kami bernaung, sebuah bangunan tua yang kami huni berpuluh tahun meski statusnya hanya pinjaman negara. Di sana, di antara ketegasan Nenek dan kepasrahan Kakek, Ibu berdiri sebagai jantung yang memompa kehidupan. Ia bukan wanita yang mengajari kami tentang ayat-ayat suci dengan lisan, melainkan dengan tangannya yang kasar dan punggung yang tak pernah menyerah pada beban. Ia adalah petarung yang menjaga atap rumah itu tetap kokoh meski ia tahu suatu saat bangunan itu harus dikembalikan. Bagi Ibu, rumah bukan soal sertifikat, melainkan tentang bagaimana ia menjaga api di dapur tetap menyala dan kehormatan kami tetap terjaga.
Malam itu, aku duduk bersandar pada pilar besar di bawah kanopi Masjidil Haram. Di depanku, dunia seolah sedang mempertontonkan kemesraan yang mengejek kesendirianku. Aku melihat seorang pria tua dengan tangan gemetar menyuapi istrinya sepotong roti, seolah waktu tak mampu menggerus kasih mereka. Aku melihat seorang anak kecil tertidur lelap di pangkuan ibunya—sebuah pelabuhan paling aman yang pernah diciptakan Tuhan. Menatap mereka, rasa iri itu merayap perlahan, mencengkeram tenggorokanku hingga kering. Betapa tidak adilnya; mereka sedang merayakan kepemilikan yang nyata, sementara aku sedang meratapi kehilangan yang absolut.

“Ya Tuhan,” bisikku, nyaris tertelan isak. “Jika benar tempat ini adalah pintu bagi segala ruh, pinjamkanlah aku satu siluet yang menyerupainya. Hanya satu detik, agar aku tahu bahwa semangatnya masih menjagaku dari kegelapan. Beri aku satu fragmen kekuatan, agar aku tak hancur berkeping-keping di sini.”
Aku tidak mengejar kerumunan, namun mataku tak bisa berhenti menyisir. Hingga tiba-tiba, langkahku terpaku di dekat pintu keluar arah Safa. Di sana, duduk langsung di atas marmer yang beku tanpa alas, aku melihat seorang wanita tua. Ia sedang membetulkan letak ujung mukenanya dengan sentakan tangan yang sigap—gerakan yang sangat kukenali sebagai cara Ibu menyampirkan kainnya saat hendak bertarung dengan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Caranya mengatur napas, dengan bahu yang naik-turun namun dagu yang tetap terangkat tegar, membuat jantungku seolah ditarik keluar dari rongganya.
Itu adalah bahasa tubuh seorang petarung. Sosok yang tidak mau dikasihani oleh keadaan, meski tubuhnya sudah remuk oleh kelelahan. Sorot matanya menyapu kerumunan dengan dahi sedikit berkerut, seolah-olah sedang mencari jalan paling efisien untuk menembus lautan manusia—tatapan yang sama persis dengan cara Ibu menantang dunia yang sering kali tidak ramah kepadanya. Di lantai yang dingin itu, ia tampak seperti karang yang tak goyah oleh ombak. Harapanku membubung liar, menyesakkan paru-paru. Aku melangkah mendekat, perlahan sekali, takut jika langkahku terlalu berat akan memecahkan fatamorgana ini. Aku sudah bersiap untuk jatuh bersimpuh, menyerahkan seluruh sisa egoku, hanya demi mendengar satu helaan napas yang kukenal.
Namun, ketika wanita itu mendongak dan tatapan kami beradu, duniaku lumat seketika.
Wajah itu asing. Tak ada binar mata yang selalu bisa memadamkan api amarahku. Itu adalah mata orang lain—dingin, datar, dan tanpa pengenalan. Harapan yang tadi melambung, kini diempaskan ke lantai marmer tanpa ampun. Wanita itu kembali mengalihkan pandangannya, memijat kakinya sendiri, meninggalkanku mematung seperti pencuri yang tertangkap basah sedang mencoba merampas kenangan milik orang asing.

Hingga fajar pada awal Januari 2026 menyingsing, Tuhan tetap menutup rapat pintu rahasia-Nya. Aku akhirnya tersungkur dalam sujud terakhir dengan hati yang benar-benar hancur. Aku menyadari satu hal yang teramat pahit: Ibu memang tidak bisa dipinjamkan bayangnya kepada siapa pun. Ia terlalu istimewa untuk sekadar diwakilkan oleh kemiripan fisik seorang asing.
Aku pulang dengan tangan hampa, namun dengan rindu yang kini telah berhenti memberontak. Mekah tetap dingin, tapi di dalam dadaku, ada api kecil yang mulai menyala—api yang dulu Ibu jaga agar kami tetap hangat di rumah dinas itu. Ibu tidak pergi; ia hanya berganti rupa menjadi keberanian yang kini mengalir dalam darahku. Aku tidak lagi mencari wajahnya di kerumunan, karena aku sadar bahwa aku adalah “rumah” yang sesungguhnya tempat ia tetap hidup. Sebuah rumah yang tak akan pernah bisa diambil kembali oleh negara, bahkan tidak juga oleh maut.
Namun di atas segala ketangguhan yang kupaksakan ini, di sela marmer Mekah yang membeku, aku hanya ingin jujur pada semesta: “Bu, aku kangen sekali”.