Ada yang bilang manusia adalah makhluk yang berevolusi. Tapi kalau Anda berdiri sepuluh menit saja di tengah hiruk-pikuk kota hari ini, Anda akan sadar bahwa peradaban kita sedang berjalan mundur. Kita kembali ke zaman batu; bedanya, sekarang kita memegang gawai dan mengendarai mesin. Kesopanan kini sudah robek, digantikan hukum rimba: siapa yang paling galak, dialah pemenang.
Kegilaan ini dimulai dari pembiaran atas hal-hal kecil, seperti polusi asap rokok. Sebagai perokok, saya tahu betul nikmatnya asupan nikotin. Tapi saya masih punya sisa akal sehat untuk tidak merokok sambil berkendara, apalagi membiarkan abunya terbang ke muka orang lain. Mencari pojokan parkiran atau tempat yang layak bukan soal menjadi suci, itu soal tahu diri.
Namun, ketika rasa tahu diri itu menguap, yang muncul adalah keberingasan irasional. Tengok saja kejadian di sebuah rumah sakit daerah Kulon Progo baru-baru ini. Seorang petugas keamanan babak belur dikeroyok hanya karena mengingatkan rombongan agar tidak merokok di depan pintu IGD. Di area tempat orang bertaruh nyawa dengan bantuan oksigen, mereka justru bangga menghembuskan racun. Saat ditegur, harga diri mereka yang setipis kertas langsung hancur—merasa martabatnya lebih penting daripada nyawa pasien di dalam sana.
Egoisme serupa meluap hingga ke lintasan berbayar. Di jalan tol, kita dipaksa mengalah pada para lane hogger yang menutup lajur kanan dengan kecepatan rendah tanpa merasa berdosa. Saat diberi isyarat lampu jauh atau klakson, mereka bukannya sadar posisi, tapi malah makin bebal, sengaja menginjak rem, dan menutup jalan karena tak sudi disusul. Jalur cepat berubah menjadi panggung pamer nyali murahan untuk menggertak sesama demi ego yang terluka.

Di jalur arteri, situasinya tidak lebih baik. Kita harus bertaruh nyawa menghadapi sopir taksi yang melaju lambat demi memancing sewa, berjalan “ngambang” di antara dua marka jalan sehingga menutup ruang manuver kendaraan lain. Belum lagi barisan ojek online yang melaju di atas 40 km/jam sambil asyik mengoperasikan aplikasi di ponselnya. Fokus mereka bukan lagi pada aspal, tapi pada layar, sementara keselamatan orang lain dianggap sebagai risiko yang boleh dikorbankan demi satu orderan.
Melihat semua ini, kita seolah dipaksa mengamini satu hukum baru yang tak tertulis: jotos dulu, bicara kemudian. Rasanya, kekerasan sedang dalam proses “disahkan” oleh keadaan. Kita berhenti berdiskusi karena lawan bicara kita bukan lagi manusia berakal, melainkan tumpukan ego yang hanya paham bahasa otot.
Namun, di sinilah letak ironi yang paling pedih. Di saat realita lapangan menuntut kita untuk menjadi “liar” demi bertahan hidup, aturan formal seperti KUHP baru justru mulai mengedepankan mediasi dan keadilan restoratif. Kita terjepit dalam dilema: mengikuti dorongan purba untuk memukul balik supaya tidak diinjak, atau tetap waras tapi berakhir sebagai korban yang hanya bisa berharap pada proses hukum yang panjang dan melelahkan. Kita dipaksa memilih antara menjadi bajingan agar disegani, atau menjadi warga negara taat yang harus rela “disembelih” setiap hari di jalanan.
Lalu, muncullah senjata pelengkap: kamera ponsel. Interaksi sosial kini berubah menjadi duel koboi digital. Begitu ada gesekan, kedua pihak refleks mencabut gawai, saling todong lensa, dan adu cepat menekan tombol rekam. Siapa yang viral duluan, dialah yang memegang kendali opini. Kita tidak lagi mencari solusi, kita hanya mencari siapa yang paling jago “menembak” reputasi orang lain.
Malu itu melelahkan, sementara menjadi beringas memberikan kepuasan instan. Dan jujur saja, virus ini sangat menular. Saya pun mulai terjangkit. Muncul dorongan purba untuk menyerang duluan sebelum diserang, karena di tengah kerumunan yang kehilangan akal, bicara baik-baik terasa seperti membacakan puisi di depan knalpot racing—sia-sia dan menyesakkan.
Apa yang tersisa dari kemanusiaan kita jika setiap interaksi selalu diawali kecurigaan dan diakhiri makian? Mungkin kita memang tidak sedang membangun peradaban. Kita hanya sedang merawat rimba modern, di mana adab hanyalah barang antik. Jadi, jangan salahkan saya jika besok saya tak lagi memakai kata “maaf”. Di tengah kedaulatan yang rusak ini, saya memutuskan untuk berhenti menjadi korban. Selamat datang di rimba—sekarang, panggil saya bajingan baru.