Di medan hidup yang sering disangka rimba, ada satu sosok yang berjalan seolah membawa senandung sunyi. Ia mengaku lahir dari rahim malam, tumbuh dari gigil angin yang menolak nama. Langkahnya ia atur seperti bait puisi yang ditekan pelan-pelan, agar setiap orang yang melihatnya percaya, inilah sang serigala tunggal yang memilih menjauh dari segala hembusan napas kawanan.

Namun dari balik kabut yang ia buat sendiri, aroma lain perlahan menyeruak, aroma bulu yang bukan milik serigala. Ada kelicinan halus mengintai dari ekor kecil yang tak sengaja menyapu tanah.
Serigala?
Ah, tidak.Hanya seekor rubah yang kebingungan, tapi lihai menyembunyikan kepanikannya dalam bayang-bayang bergaya.
Ia berjalan dengan kepala sedikit menunduk, seolah sedang mendengarkan rahasia bumi. Padahal telinganya sibuk menadah bisik-bisik manusia, matanya yang tampak teduh sebenarnya gelisah, mengintip setiap gerak, menakar setiap celah. Dari jauh ia seperti puisi muram, dari dekat ia seperti catatan kaki yang pura-pura penting.
Kesendiriannya pun bukan kesendirian yang lahir dari keteguhan. Bukan sepi yang dipilih, melainkan sepi yang diambil dari rak paling atas hanya karena rak-rak lain sudah kosong. Ia menampung sunyi seperti menampung hujan. Bukan karena suka, tapi karena gengsi mengakui bahwa ia kedinginan.
Dan betapa apik ia memainkan peran itu.
Ia menapaki tanah seolah tiap butir debunya pernah menjadi saksi luka. Ia menatap langit seperti pernah ditinggalkan bintang. Ia menata diamnya seperti menata pertunjukan kecil: tenang di permukaan, tapi bilik dadanya gaduh seperti pasar yang baru dibuka.
Semuanya demi memantaskan topeng serigala yang ia tempel dengan liur kebiasaan.
Padahal, bila kau perhatikan cara ia bersembunyi, caranya merayap di antara bayangan, caranya mengintip sambil pura-pura tak peduli, di sanalah rupa aslinya bocor. Rubah memang ahli menata langkah, tapi ia tak pernah benar-benar bisa meniru angkuh tenang serigala. Ada kepicikan manis pada caranya mengamati dunia, semacam kelicikan yang dibungkus ketakutan kecil. Sinisnya bukan karena paham, tapi karena bingung harus menaruh dirinya di mana.
Serigala, jika memang ia serigala, tak pernah sibuk membenarkan posisinya dalam cerita. Ia cukup menjadi denting tajam yang menembus hutan.
Rubah yang tersesat?
Ia menyusun narasi sebelum menyusun napas. Ia membuka jalan dengan ilusi, lalu berdiri di tengahnya sambil berharap orang percaya itu medan tak bertuan.
Kadang, ia menaruh luka-luka kecil di jendela wajahnya. Bukan sebagai pengakuan, tapi sebagai pajangan agar kau menyangka ia bertarung melawan dunia. Ia tahu bagaimana mencampur perasaan dengan busa kata-kata, sehingga kesedihannya tampak seperti legenda yang perlu dihormati.
Padahal, luka itu seringkali hanya goresan yang ia ulang-ulang sendiri agar terlihat dalam.
Ia berkeliaran di antara manusia seperti bayangan tak selesai, mencuri atensi tanpa terlihat mencuri. Sering kali ia terlihat tenang, tapi ketenangan itu seperti air dangkal. Sekali kau ceburkan jari, dasar kegelisahannya langsung kelihatan.
Dan terus saja ia berjalan, menyesap kabut, merajut kesan bahwa dirinya diciptakan dari batu keras kesunyian. Semua demi mempertahankan ilusi bahwa ia adalah makhluk yang tak dapat dijinakkan.
Padahal, kakinya sendiri gemetar ketika dihadapkan pada arah.
Padahal, ia tersesat bahkan sebelum langkah pertamanya selesai.
Di hutan yang ia klaim sebagai wilayahnya, ia sebenarnya hanya tamu yang lama. Rubah itu menanti kesempatan untuk tampak megah. Menanti seseorang terpeleset oleh cahaya kecilnya. Menanti dunia percaya pada dongeng yang ia tanam di antara dedaunan.
Tetap ada kecerdikan di matanya, tentu saja. Rubah selalu punya kilau yang tak mampu ditiru makhluk lain. Tapi kilau itu lebih sering menyalahkan cahaya daripada menunjukkan jalan.
Dan ketika malam datang tanpa kompromi, ketika angin menyingkap tirai abu-abu yang ia gunakan sebagai selimut, topeng serigalanya mulai goyah.
Bayangannya sendiri pun heran harus mengikuti bentuk yang mana.
Namun begitulah sifat rubah: ia cerdas, ia gesit, ia memesona, tapi ia jarang benar-benar tahu arah. Ia lebih sibuk memastikan bahwa ia tidak kelihatan tersesat daripada berusaha menemukan jalan pulang.
Dan di titik itu, kesendiriannya menjadi semacam panggung kecil. Tempat di mana ia berputar-putar, menegakkan telinga, mengangkat dagu, berharap satu hal, bahwa orang-orang akan lebih ingat topengnya daripada langkahnya.
Sebab bila topeng itu runtuh, dunia akan menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah lama terpampang:
“Rubah tak pernah takut pada gelap, mereka hanya takut pada cermin yang memantulkan jalan yang tak pernah mereka hafal.” (***)