Dari Ruang Editing ke Ruang Akademik

Ada satu pengalaman unik yang nggak pernah saya bayangkan sebelumnya: program televisi kriminal yang dulu pernah saya buat, Crime Story (CS): File, ternyata dijadikan bahan penelitian dan ditulis sebagai jurnal ilmiah oleh seorang Doktor. Iya, Doktor beneran yang nulisnya dengan bahasa akademis yang super rapi dan penuh istilah semiotika. Yang bikin saya makin kaget, ternyata yang dibedah salah satunya adalah episode terkenal tentang Ryan Jombang, kasus yang waktu itu memang jadi perhatian nasional.

Saat saya membaca jurnal itu, rasanya campur aduk antara ngakak, terharu, dan bangga. Saya dulu membuat tayangan itu dengan orientasi produksi yang sederhana: menyampaikan fakta kriminal sejelas mungkin, menyusun dramaturgi yang kuat, dan menjaga tensi cerita tetap menarik dari awal sampai akhir. Tapi di tangan seorang akademisi, tayangan itu berubah jadi bahan analisis mendalam tentang bagaimana televisi membentuk cara masyarakat melihat dunia. Termasuk bagaimana kasus Ryan Jombang itu dipresentasikan dan akhirnya memberi dampak besar pada persepsi publik.

Episode Ryan Jombang memang punya daya tarik yang besar secara produksi. Kasusnya kompleks, penuh misteri, melibatkan pengakuan mengejutkan, dan punya elemen psikologis yang kuat. Secara visual, kami menampilkan suasana tegang lewat pilihan musik, tone gelap, dan narasi yang tegas. Saat itu, fokus saya cuma satu: membuat penonton paham kronologi sekaligus merasa “masuk” ke atmosfir kasus. Soal dampak sosialnya? Jujur saja, saya belum terlalu memikirkan sejauh itu.

Namun, lewat jurnal yang saya baca itu, saya baru memahami bahwa televisi tidak pernah netral. Pilihan gambar, cara kamera menyorot, narasi yang saya tulis, sampai ekspresi aktor reenactment—semua itu adalah tanda yang membangun makna. Episode Ryan Jombang ternyata menjadi contoh kuat bagaimana sebuah tayangan kriminal membentuk citra tertentu. Dalam jurnal itu disebutkan bahwa narasi dan visual di episode tersebut membuat publik melihat pelaku bukan hanya sebagai kriminal, tapi juga menghubungkannya dengan isu homoseksualitas sebagai penyimpangan. Ini yang oleh peneliti disebut sebagai proses konstruksi. TV bukan cuma menampilkan, tapi membentuk persepsi.

Saya jadi terdiam ketika membaca bagian itu. Karena memang benar, kasus Ryan Jombang ketika itu juga dibungkus oleh media sebagai “pembunuhan dengan motif homoseksual”. Dan tanpa sadar, cara saya menyusun visualnya mungkin ikut memperkuat itu. Bukan karena saya berniat menstigma, tetapi karena dramaturgi kriminal memang cenderung menekankan sisi-sisi gelap pelaku. Namun, dari kacamata akademisi, penyajian seperti ini dapat melahirkan moral panic, yaitu ketakutan bersama masyarakat terhadap kelompok tertentu akibat representasi yang berulang.

Di jurnal itu, peneliti menjelaskan bagaimana semiotika bekerja di tayangan seperti CS: File. Musik mencekam, pencahayaan gelap, close-up wajah pelaku, hingga tone suara narator dapat membangun citra bahwa sesuatu itu berbahaya. Ketika elemen-elemen itu ditempelkan pada tokoh dengan orientasi seksual tertentu, penonton bisa saja menyerap pesan bahwa homoseksual identik dengan kekerasan atau penyimpangan. Saya membaca itu sambil tersenyum kecut, karena baru sadar bahwa banyak keputusan produksi dilakukan karena tuntutan tempo dan gaya visual, bukan karena agenda ideologis apa pun. Tapi dalam ruang akademik, semua itu dianggap signifikan.

Membaca analisis itu membuat saya semakin sadar bahwa televisi punya kekuatan besar. Ia bukan hanya hiburan atau informasi, tapi juga pencipta makna. Kasus Ryan Jombang menjadi contoh bagaimana sebuah episode kriminal dapat membentuk cara masyarakat memahami kelompok tertentu, meski niat awal hanya memberi gambaran tentang satu kasus. Konteks industri pun tidak bisa dilepas. Televisi hidup dari perhatian penonton. Ketegangan dan dramatisasi memang jadi bagian dari strategi agar penonton bertahan. Namun, tanpa kita sadari, ada dampak sosial yang ikut terbentuk melalui cara kita menyusun cerita.

Sebagai penonton, saya rasa kita semua perlu punya jarak kritis saat menyaksikan tayangan kriminal. Apa yang kita lihat bukan realitas utuh, melainkan realitas yang sudah dipilih dan diolah. Sementara sebagai mantan pembuat konten, pengalaman membaca jurnal itu membuat saya lebih menghargai tanggung jawab moral dalam produksi. Drama dan ketegangan adalah bagian dari kebutuhan tayangan, tetapi saya jadi lebih sadar bahwa framing tertentu bisa memperkuat stereotip yang tidak selalu sesuai fakta sosial.

Meski begitu, rasa bangga saya tetap besar. Tidak setiap hari ada program yang pernah saya buat bertahun-tahun lalu dibedah serius oleh seorang Doktor. Episode Ryan Jombang yang dulu saya garap dalam deadline ketat ternyata punya jejak panjang sampai ke ruang akademik. Rasanya seperti karya yang lama saya tinggalkan di ruang editing tiba-tiba hidup kembali dalam bentuk lain—lebih ilmiah, lebih kritis, dan membuka banyak perspektif baru.

Kotak ajaib bernama televisi memang penuh kejutan. Dan saya bersyukur pernah menjadi bagian kecil dari kekuatan itu, bahkan ketika dampaknya baru terasa bertahun-tahun setelah layar ditutup. (***)

Leave a Reply