Ada perjalanan yang tidak dimulai dari tiket atau koper. Ada perjalanan yang dimulai dari sebuah ucapan kecil yang keluar begitu saja, lalu entah bagaimana akhirnya terkabul.
Setahun sebelum kami berangkat umroh bersama, saya pernah memberikan sekeping uang logam real kepada putri sulung saya. Nilainya tidak seberapa. Tapi waktu itu saya berkata,
“Mbak, simpan ini ya. Siapa tahu nanti kamu sendiri yang bawa ke Mekah atau Madinah.”
Ia hanya mengangguk. Saya pun tidak memikirkan lagi soal koin itu. Tapi rupanya, doa bisa berangkat lebih dulu dari niat yang kita sadari.
Setahun kemudian, kami benar-benar berangkat ke Tanah Suci.
Musim panas sedang tinggi-tingginya. Udara di luar mencapai lima puluh derajat, tapi di dalam hati, ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Dari jendela bus menuju Mekah, saya melihat wajah anak-anak saya — diam, penuh harap, seperti sedang menyiapkan diri untuk sesuatu yang besar.
Saya sudah pernah datang ke sini, tapi kali ini rasanya berbeda. Mungkin karena saya tidak sendirian. Saya datang bersama orang-orang yang dulu hanya bisa saya doakan dari jauh.
Malam itu kami melangkah ke Masjidil Haram. Udara panas masih terasa meski sudah larut malam. Tapi saat memasuki pelataran, langkah kami melambat, seolah semua ingin tiba dengan cara yang tenang.
Begitu Ka’bah terlihat di depan mata, anak-anak saya langsung terdiam. Putri sulung saya menggenggam tangan saya lebih erat. Saya menoleh padanya dan berkata pelan,
“Itu, Nak… rumah Allah.”

Ia tidak menjawab, hanya menunduk, lalu air matanya jatuh perlahan. Saya diam saja. Kadang, perasaan yang dalam memang tidak butuh kata-kata.
Kami mulai thawaf. Batu marmer di sekeliling Ka’bah terasa sangat sejuk di telapak kaki, padahal udara di atas kepala masih panas. Setiap langkah terasa ringan. Di tengah putaran itu, saya menatap keluarga saya satu per satu. Ada istri yang setia di belakang, anak-anak yang berjalan di sisi kanan dan kiri.
Saya sadar, waktu sudah berjalan jauh. Anak-anak yang dulu saya tuntun, kini berjalan sejajar. Dan di tengah keramaian itu, saya hanya ingin bersyukur: bahwa kami bisa sampai di tempat ini, bersama, dalam keadaan sehat, dengan hati yang penuh rasa.
Di Madinah, suasananya berbeda. Panas tetap terasa, tapi langitnya lebih teduh. Setelah salat Ashar, kami duduk di pelataran Masjid Nabawi. Istri dan anak-anak menikmati kopi kekinian diArab, lalu bergantian meneguk air zamzam dari dalam tumbler. Tidak ada banyak obrolan. Hanya keheningan yang menenangkan
Saya menatap mereka satu per satu. Tak ada hal besar yang saya pikirkan — hanya perasaan sederhana bahwa kebersamaan ini adalah rezeki yang tidak bisa diukur dengan apa pun.
Menjelang kepulangan, putri sulung saya menghampiri saya di lobi hotel. Ia membuka dompetnya, memperlihatkan koin real yang dulu saya berikan.
“Yah, koinnya aku bawa ke sini,” katanya pelan. “Boleh aku simpan lagi? Siapa tahu nanti aku bisa balik lagi ke sini.”
Saya menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
“Simpan saja, Nak. Biar dia ikut menunggu perjalanan berikutnya.”
Ia menggenggam koin itu dengan tenang. Saat melihatnya begitu, saya tahu bahwa doa saya dulu sudah berpindah tangan.
Sekarang, setiap kali saya melihat foto keluarga kami di depan Ka’bah, saya tidak hanya mengingat perjalanan ibadah. Saya mengingat doa yang tumbuh perlahan, dari niat yang sederhana, lalu menjadi pengalaman yang akan kami bawa selamanya.
Saya masih ingin kembali. Bukan untuk mengulang, tapi untuk memperdalam. Mungkin nanti bersama mereka lagi, atau sendiri, membawa rindu yang sama.
Dan di setiap doa saya, selalu ada satu harapan yang saya ulang-ulang:
“Ya Allah, izinkan kami sekeluarga untuk Engkau panggil kembali ke rumah-Mu. Dengan cara yang Engkau kehendaki, dan waktu yang Engkau pilih.”
Koin itu masih disimpan oleh putri sulung saya.
Dan selama koin itu masih ada di tangannya, saya percaya — doa kami belum selesai. Suatu hari nanti, kami akan kembali. (***)