Hidup di apartemen kelas menengah di kota besar Indonesia punya keheningannya sendiri. Segalanya tampak tertata, bersih, fungsional. Tidak mewah, tapi cukup nyaman untuk dijadikan tempat pulang. Namun entah mengapa, di balik ketertiban itu, ada rasa asing yang sulit dijelaskan—seolah manusia di dalamnya hidup berdampingan tanpa benar-benar hadir satu sama lain.
Setiap pagi, dari jendela ruang tamu, saya melihat deretan gedung serupa berdiri berjajar. Balkon-balkon sunyi, jemuran tergantung rapi, suara mesin AC mengisi udara. Kadang ada penghuni yang keluar untuk sekadar menyiram tanaman atau menjemur pakaian, tapi tanpa sapaan, tanpa kontak mata. Semuanya seperti hidup dalam ruang masing-masing. Kota di bawah terasa sibuk, tapi di sini, di antara ratusan unit ini, waktu berjalan tanpa getar kehidupan.
Lift jadi tempat yang paling sering memperlihatkan wajah nyata kehidupan di apartemen. Orang masuk, menekan tombol, berdiri diam, lalu keluar tanpa sepatah kata. Tak ada basa-basi, apalagi senyum. Semua sibuk menatap layar ponsel atau pura-pura sibuk dengan tas di tangan. Pernah suatu kali saya mencoba tersenyum pada seorang penghuni yang sering saya temui di pagi hari. Ia membalas dengan anggukan kecil—sekadar sopan, tanpa ekspresi. Dan entah kenapa, saya langsung berhenti mencoba setelah itu.

Padahal ini masih Indonesia. Negara yang dulu dikenal karena hangatnya sapaan, karena keramahan yang katanya melekat di darah masyarakatnya. Tapi di sini, di antara tembok putih dan koridor sunyi, tradisi itu seolah tidak berlaku. Tak ada tegur sapa, tak ada rasa ingin tahu. Bahkan ketika ada penghuni baru pindah, tidak ada ucapan selamat datang, hanya suara geser kardus di lorong dan pintu yang menutup pelan.
Saya tidak sedang mencari keakraban berlebihan. Tapi ada sesuatu yang ganjil saat menyadari betapa terasingnya manusia modern di negeri yang katanya ramah ini. Semua orang sibuk dengan urusannya, berlomba menata hidup sepraktis mungkin. Waktu terasa mahal, dan perhatian jadi barang langka. Apartemen menjadi simbol dari efisiensi itu—tempat yang nyaman, tapi dingin. Tempat tubuh beristirahat, tapi hati tidak pernah benar-benar tenang.
Malam hari, kesunyian terasa lebih kental. Suara langkah di koridor, percikan air dari kamar mandi unit lain, atau piring yang dibersihkan di dapur sebelah—semuanya menandakan kehidupan, tapi tidak menghadirkan kebersamaan. Dari balkon, saya bisa melihat lampu-lampu kamar lain menyala. Ada yang sedang bekerja, ada yang makan malam, ada yang menonton sesuatu di laptop. Tapi semuanya berlangsung sendiri-sendiri, tanpa irisan.
Kadang saya berpikir, mungkin begini cara hidup di kota besar bekerja: semakin tinggi bangunan, semakin tebal jaraknya antar manusia. Semua berlomba menjaga privasi, dan dalam proses itu, kehilangan sisi hangat yang dulu membuat hidup terasa ringan. Tidak ada yang jahat, hanya terlalu sibuk bertahan.
Saya tidak merindukan masa lalu, tapi ada hal-hal kecil dari kehidupan sederhana dulu yang kini terasa berharga: sapaan pagi, obrolan singkat dengan tetangga, atau sekadar tawa ringan di warung kopi dekat rumah. Hal-hal yang dulu saya anggap biasa, kini sulit ditemukan bahkan di tempat dengan fasilitas lengkap sekalipun. Di apartemen, semuanya tersedia—air panas, keamanan, pemandangan kota—kecuali rasa terhubung.
Saya tidak bisa menyalahkan siapa pun. Termasuk diri saya sendiri. Saya pun jarang berinisiatif untuk mengenal orang lain. Bukan karena sombong, tapi karena di lingkungan seperti ini, keramahan terasa seperti pelanggaran aturan tak tertulis. Semua orang menjaga jarak agar tetap nyaman. Mungkin itu bentuk sopan santun versi modern: tidak mengganggu, tidak melibatkan diri.
Namun, semakin lama tinggal di sini, saya mulai mengerti bahwa ketenangan tanpa interaksi ternyata melelahkan juga. Hidup menjadi terlalu diam. Tidak ada konflik, tapi juga tidak ada cerita. Apartemen ini seperti ruang tunggu yang rapi—semua orang datang dan pergi dengan tujuan masing-masing, tanpa saling menatap.
Saya sering membayangkan, bagaimana jika suatu hari terjadi hal kecil yang membuat orang-orang keluar dari kebiasaan mereka—misalnya mati listrik atau acara kecil bersama di lantai bawah. Mungkin baru saat itu mereka akan berbicara, saling memperkenalkan diri, dan menyadari bahwa selama ini mereka hidup hanya beberapa meter dari seseorang yang mungkin bisa menjadi teman. Tapi dunia modern jarang memberi kesempatan seperti itu. Semua berjalan mulus, terlalu mulus untuk menumbuhkan hubungan manusiawi.
Dan begitulah, saya menjalani hari-hari di apartemen yang tinggi tapi hening. Dari jendela, saya melihat pendar cahaya kota yang indah tapi terasa jauh. Di balik setiap lampu itu, saya yakin ada banyak orang yang merasakan hal sama—hidup di tengah banyak orang, tapi tanpa benar-benar bersama siapa pun.
Mungkin beginilah harga dari kemajuan: kita belajar menutup diri demi rasa aman, membeli kenyamanan dengan kesepian, dan menyebut jarak sebagai kemandirian. Tapi di antara semua itu, saya tetap percaya, hal kecil seperti sapaan ringan di lift atau senyum yang tulus masih punya kekuatan.
Dan kalau suatu hari nanti, seseorang di gedung ini menatap saya dan tersenyum tanpa alasan, saya akan membalasnya. Bukan untuk membuka percakapan panjang, tapi sekadar mengingatkan diri sendiri bahwa di balik dinding-dinding sunyi ini, masih ada manusia—dan mungkin, itu saja sudah cukup.