Rimba Membusuk

Di teras luar perpustakaan kota, sore itu berasa seperti sisa rokok yang lupa dimatikan: panas, lembab, dan menyisakan aroma pesimis di udara. Gelas kopi saya sudah tidak lagi hangat, tapi tetap saya pegang untuk alasan bodoh yang bahkan saya nggak bisa jelaskan. Tablet di sebelah gelas menampilkan foto-foto street shoot sore tadi—jalanan basah, sepeda motor melintas cepat, bayangan orang-orang yang terburu-buru mengejar hidup yang entah mau dibawa ke mana. Tidak ada hutan di situ, tidak ada pepohonan raksasa atau kabut pagi. Cuma beton, kabel listrik, dan orang-orang yang kelihatannya tidak punya waktu buat peduli lingkungan.

Tapi justru di tempat sekeras dan sesumpek itu, obrolan tentang hutan terdengar paling absurd sekaligus paling real.

Dari meja panjang dekat pintu perpustakaan, sekelompok orang ngobrol sambil ngemil gorengan. Saya bukan bagian dari mereka, dan saya pastikan begitu. Di dunia yang makin bising, jadi pendengar gelap jauh lebih nyaman. Curi dengar dari kejauhan terasa seperti menonton film dokumenter tapi tanpa tanggung jawab intelektual.

Dan, sialnya, obrolan mereka menarik.

“Lu kira ilegal logging itu cuma maling pohon pake golok?” kata seseorang, suaranya berat tapi jelas. “Nggak ada tuh. Yang bikin jalanin bisnis itu justru orang-orang yang duduk di kursi empuk.”

Yang lain menimpali, “Iya. Mana ada kayu keluar ribuan kubik tanpa tanda tangan pejabat? Mereka itu jago… pura-pura nggak tahu.”

Saya menahan senyum—senyum yang pahit, bukan lucu. Obrolan ini lebih jujur daripada konferensi pers kementerian mana pun.

Street photos di tablet menampilkan seorang bapak tua sedang mengikat tali sepatu di trotoar. Cahaya LED toko memantul di genangan air. Pemandangan urban yang, entah bagaimana, malah membuat saya terpikir soal hutan yang makin hilang. Ironi kota: pusat paling bising justru tempat paling mudah menyadari apa yang telah lenyap.

Suara dari meja itu makin lantang.
“Kebakaran hutan tiap tahun itu bukan kecelakaan,” kata seseorang dengan nada sinis. “Itu strategi. Biar lahan jadi ‘kosong alami’, tinggal masuk investor. Resmi, legal, bahkan dapat sertifikat.”

Tawa mereka mirip kulit singkong yang digoreng dua kali—kasar, getir, terlalu renyah untuk sesuatu yang pahit. Saya teguk sisa kopi, rasanya kayak abu.

Seseorang menyebut sesuatu yang langsung menggores memori:
“Ingat nggak Harrison Ford marah-marah sama Menteri Kehutanan Indonesia? Yang dia bilang, ‘Why are your forests disappearing?’ Gila, orang Hollywood aja peduli. Pejabat sini? Sibuk cari kamera.”

Saya nyaris batuk menahan tawa. Adegan itu memang legendaris. Dan menyakitkan. Dibutuhkan seorang aktor tua dari negara lain untuk mengatakan hal yang sebenarnya sudah diteriakkan masyarakat bertahun-tahun, tapi selalu ditutup pakai istilah birokrasi yang terlalu rapi untuk kebusukan sebesar itu.

Foto di tablet berganti ke anak-anak main bola plastik di gang sempit. Salah satu dari mereka pakai kaus lusuh dengan tulisan “Save The Forest” yang mungkin dia sendiri nggak tahu artinya. Ironi lagi.

Obrolan di meja itu belum selesai.
“Lo tau apa yang paling menjijikkan?” suara seseorang meninggi. “Pas ada banjir bandang atau longsor, pejabat langsung datang bawa rompi kuning terang kaya mau syuting film. Foto-foto, pidato, lalu bilang ‘kami sudah mengingatkan masyarakat’. Padahal gunung dibabat lewat izin yang dia teken!”

Yang lain mengumpat pendek. Saya setuju, walau hanya dalam kepala. Indonesia bukan kekurangan aturan. Indonesia cuma kelebihan orang yang bisa disuap untuk melanggar aturan itu sendiri.

Tiba-tiba saya ingat lirik lagu God Bless tahun 1979:
“Hutan dan bumi menangis, siapa peduli?”
Empat puluh lebih tahun berlalu, dan jawaban paling jujur masih: hampir tidak ada.

Di layar tablet, foto berikutnya menunjukkan siluet seseorang di bawah lampu jalan, berdiri sendirian, seperti sedang menunggu jawaban dari dunia yang terlalu sibuk. Saya mendadak sadar: hutan pun posisinya sama—menunggu uluran tangan yang tidak pernah datang. Menunggu manusia berhenti merasa berkuasa atas sesuatu yang jelas bukan miliknya.

Percakapan di meja akhirnya masuk fase pasrah:
“Hutan kita itu dibunuh pelan-pelan,” gumam seseorang. “Tiap hektare-nya dijual pakai izin. Lapisan demi lapisan dicukur. Yang tersisa cuma cerita masa kecil tentang pohon besar yang sekarang tinggal legenda.”

Saya diam. Dan untuk pertama kalinya, obrolan itu membuat teras perpustakaan terasa seperti ruang duka. Ruang duka tanpa jenazah, karena yang mati adalah sesuatu yang tidak pernah sempat dikuburkan secara layak.

Saya merapikan tablet, berdiri, dan menatap langit kota yang terhalang lampu, tanpa satu pun bintang. Barangkali begitulah masa depan: langit tanpa cahaya, bumi tanpa rimba, manusia tanpa arah.

Tidak perlu jadi aktivis buat merasa kehilangan.
Tidak perlu jadi peneliti buat tahu siapa pembunuhnya.
Dan tidak perlu jadi fotografer hutan untuk mengakui bahwa rimba kita bukan sekadar sakit—tapi membusuk.

Manusia membusuk duluan.
Hutannya cuma ikut. (***)

Leave a Reply