
“Eh, lo ngerasa nggak sih, harga jajan sekarang makin gila?” suara cewek di kursi seberang MRT kedengeran jelas. Temennya cuma angguk sambil scroll TikTok. “Iya, gaji naiknya receh, harga makanan naiknya kayak pelanggan kelas sultan.”
Obrolan receh di gerbong itu kelihatan sepele, tapi nyambung banget sama kondisi ekonomi kita hari ini. Semua orang, dari mahasiswa sampai pekerja kantoran, lagi ngerasa serba tipis: gaji lambat, harga barang melesat, masa depan makin bikin bingung.
Apalagi setelah kursi Menteri Keuangan berubah. Sri Mulyani Indrawati, yang selama ini jadi simbol kehati-hatian, diganti Purbaya Yudhi Sadewa—ekonom pro-growth dengan gaya lebih berani, bahkan cenderung “koboi.”
Sri Mulyani mirip ibu kos yang cerewet tapi bikin aman. Semua dicatat, tiap rupiah diperiksa, biar keuangan negara nggak bocor. Disiplin, hati-hati, dan bikin dunia percaya sama stabilitas fiskal Indonesia.
Purbaya beda banget. Dia lebih kayak temen ambis yang pede minjem duit buat buka usaha. Optimis, lugas, dan nggak segan janji pertumbuhan 8 persen. Kalau Sri Mulyani bilang, “Hemat dulu, jangan boros,” Purbaya bisa jawab, “Santai, growth dulu, bayar nanti.”
Buat Gen Z, bedanya gampang kebayang: satu dosen killer yang bikin kita lulus dengan susah payah, satunya mentor startup yang semangat banget ngajak gaspol.
Pendekatan agresif memang bikin penasaran. Kalau pemerintah rajin dorong stimulus, belanja besar, dan kasih ruang kredit, ekonomi bisa langsung ngebut. Industri jalan, lapangan kerja terbuka, daya beli naik. Buat anak muda, ini berarti peluang kerja lebih luas, gaji bisa naik, nongkrong di kafe nggak terlalu mikir saldo. Rasanya kayak naik MRT kosong—lega, lancar, bikin betah.
Tapi gas terus juga bahaya. Utang bisa numpuk, defisit makin lebar, harga barang ikutan melesat. Inflasi jadi ancaman nyata. Di atas kertas ekonomi terlihat tumbuh, tapi di lapangan orang malah makin ngos-ngosan. Investor juga bisa ragu kalau lihat Indonesia terlalu royal. Analogi gampangnya: temen yang tiap gajian langsung habis buat nongkrong, padahal cicilan motor masih jalan. Seru di awal, tapi bikin sengsara setelahnya.
Ekonomi itu maraton, bukan sprint. Salah strategi bisa bikin habis tenaga sebelum garis finish. Jalan tengah jelas perlu. Kita butuh pertumbuhan, iya. Tapi pertumbuhan yang sehat, bukan instan. Anggaran sebaiknya dipakai buat hal produktif: dorong industri, kuatkan ekspor, kembangkan teknologi, dan siapkan skill generasi muda. Bukan sekadar subsidi yang cepat habis terus dilupakan.
Energi Purbaya bisa jadi angin segar. Tapi dia tetap butuh rem, yaitu gaya disiplin Sri Mulyani. Kombinasi gaspol Purbaya dan rem tangan Sri Mulyani mungkin justru jadi formula aman. Kayak naik MRT, semua orang pengen sampai cepat, tapi tetap perlu ngerem kalau lampu merah nyala.
Serah terima jabatan kemarin pun sempat jadi sorotan. Purbaya mengaku gayanya masih “koboi” karena bicara terlalu blak-blakan. Dia bahkan minta maaf di depan publik, bilang masih perlu adaptasi sebagai menteri baru. Sri Mulyani dengan elegan menanggapi, menyebut gaya koboi itu khas Purbaya, tapi tetap memberi pesan soal pentingnya disiplin. Ia pamit dengan kalimat sederhana, meminta maaf kalau ada salah, tapi jelas meninggalkan standar tinggi yang sulit diabaikan.
Obrolan di gerbong MRT tadi jadi terasa relevan. Dua anak muda ribut soal harga nasi padang, sementara pejabat negara debat soal arah ekonomi. Intinya sama: semua orang pengen hidup enak tanpa dompet bocor.
Purbaya boleh gaspol, asal ingat ada batas. Ekonomi bukan cuma soal angka di laporan, tapi juga nasi padang yang bisa dibeli tanpa mikir dua kali. Di mata rakyat, jargon “pro-growth” atau “fiskal hati-hati” cuma latar belakang. Yang penting sederhana: hidup makin layak, harga tetap ramah, gaji cukup buat bertahan dan sedikit senang-senang.
Kalau semua itu bisa tercapai, obrolan di MRT mungkin berubah. Bukan lagi soal harga jajan yang bikin ngelus dada, tapi soal liburan murah ke Bali atau motor baru yang akhirnya kebeli. Kita tunggu apakah gaya koboi Purbaya bisa benar-benar bikin perjalanan ekonomi kita lebih nyaman, atau justru bikin ngerem mendadak di tengah jalan. (***)