Saatnya Membuka Dan Mengetuk Pintu

“Takkan ada cinta yang lain, hanya ada cinta ini…” Lirik lawas Kahitna itu terdengar lirih dari pengeras suara kafe sore tadi. Saya mendengarnya sambil menatap kopi yang mulai dingin, hingga anak laki-laki saya membuka percakapan yang membuat dada saya bergetar hebat.

“Yah, aku pikir waktunya sudah tepat. Bisa tolong ikut melamar dia?” katanya mantap, meski wajahnya menyimpan gugup.

Saya terdiam. Kata itu—melamar—seperti mengetuk ruang hati yang paling dalam. Rasanya baru kemarin saya menggandeng tangannya menyeberang jalan, menunggunya pulang sekolah dengan seragam penuh debu, atau menepuk bahunya saat lulus kuliah. Kini, tanpa aba-aba, ia meminta saya mengetuk pintu rumah orang lain, membawa restu sebagai ayah, untuk pacarnya yang sudah menemaninya hampir tujuh tahun.

Yang membuat saya semakin terhenyak, beberapa minggu sebelumnya, kakak perempuannya yang hanya berbeda dua tahun, juga datang dengan kabar serupa. Dengan mata berbinar, ia berkata, “Yah, dia sudah serius. Kami ingin melangkah ke jenjang berikutnya.” Dua anak saya, hampir bersamaan, menuntun saya pada pintu yang sama: pintu melepas, pintu merestui, pintu yang menandai bahwa masa kecil mereka benar-benar telah berlalu.

Di sinilah kontrasnya terasa tajam. Hati saya seperti dipaksa berdiri di dua persimpangan sekaligus. Saya bangga karena keduanya menemukan cinta yang tulus, cinta yang bertahan, cinta yang berani melangkah. Tapi di sisi lain, saya merasa sepi lebih dulu, bahkan sebelum rumah ini benar-benar kosong. Rasanya seperti sedang menutup dua pintu sekaligus: pintu masa lalu yang penuh riuh tawa mereka, dan pintu masa depan yang akan mereka buka dengan orang lain.

Saya mencoba menguatkan hati. Saya tahu, melamar bukan sekadar formalitas. Fenomena ayah melamar pacar anak laki-laki atau mendampingi putri yang diminta serius oleh pasangannya adalah simbol restu. Itu tanda bahwa cinta yang selama ini dijaga berdua akhirnya diakui dan disatukan dalam lingkar yang lebih besar, sebuah jembatan antara dua keluarga. Restu bukan sekadar kata, melainkan doa yang mengalir dalam setiap tarikan napas.

Lirik Kahitna yang sejak tadi bergema terasa semakin pas. Cinta yang bertahan bertahun-tahun memang tak bisa hanya berdiri di atas janji. Ia butuh restu, butuh doa, butuh keberanian untuk menatap masa depan bersama.

Saya menatap kedua anak saya, laki-laki dan perempuan, yang kini hampir bersamaan mengajukan permintaan besar dalam hidup mereka. Ada rasa bimbang yang perlahan digantikan oleh kebanggaan. Ada ketidakrelaan yang ditelan oleh doa. Mungkin inilah arti menjadi ayah: bukan sekadar menjaga, tetapi juga mengantar, meski hati berat melepas.

Dan kelak, ketika saya benar-benar mengetuk pintu rumah calon besan, saya tahu: di balik suara ketukan itu, ada tangisan yang saya sembunyikan, ada doa yang saya titipkan, ada cinta yang tak pernah lekang meski dilepas. Karena ayah, pada akhirnya, bukanlah orang yang kehilangan, melainkan seseorang yang mengirimkan cinta—dalam bentuk paling sunyi, paling tulus, dan paling abadi.

Melepas anak bukanlah akhir, melainkan cara lain untuk mencintai mereka dengan lebih luas.
Sebab hidup ini, pada dasarnya, hanyalah serangkaian ketukan pintu—dan kali ini, giliran saya mengetuk dengan doa. (***)

Leave a Reply