
“Yah, nanti kalau ada yang serius sama aku gimana?” tanya putri saya suatu sore, sambil rebahan di sofa. Telepon genggamnya masih menyala, layar penuh notifikasi. Saya sempat pura-pura tidak dengar, padahal telinga ini langsung tajam seperti antena. Anak sulung saya, gadis yang dulu saya antar sekolah dengan rambut poni model Dora Si Petualang, kini bicara soal lamaran.
Saya terkekeh pelan, mencoba menahan gejolak hati. “Lho, emang sudah ada yang serius?” tanyaku. Dia menatap sebentar, lalu tersenyum tipis—senyum yang sudah cukup jadi kode bagi seorang ayah lima puluh tahunan seperti saya: ada seseorang yang sedang mendekat.
Di usia saya, percakapan ini lebih menegangkan daripada berita politik, lebih bikin deg-degan dibanding laporan bentrokan massa di DPR. Bagaimana tidak, anak perempuan pertama itu sering kali jadi cermin masa muda ayahnya. Sejak kecil saya melihatnya tumbuh, lalu jelang remaja harus rela ditinggal ayahnya bekerja di kota lain. Dari jauh saya hanya bisa memantau lewat telepon, mendengar ceritanya yang kadang ditahan tangis, kadang diselingi tawa. Dan kini, ada lelaki yang katanya ingin menjaganya.
Sebagai ayah, saya tentu senang. Bukankah itu tanda dia tumbuh, dicintai, dan dipercaya? Tapi di sisi lain, ada keresahan yang diam-diam menggigit: apakah lelaki itu benar-benar bisa menjaga hatinya? Apakah dia tahu bahwa anak ini bukan sekadar gadis cantik, tapi juga seorang pekerja keras yang mudah rapuh?
Bicara soal lamaran bukan cuma soal cincin, gaun, atau gedung resepsi. Ini juga soal masa depan, soal keberanian melepas, soal ketegangan antara rasa bangga dan rasa kehilangan. Anak perempuan pertama itu seperti buku harian hidup saya—halaman demi halaman berisi tawa, tangis, dan cerita. Dan sekarang, ada yang ingin membacanya bersama.
Mungkin keresahan ini juga dirasakan banyak ayah lain. Terutama generasi saya yang tumbuh dengan didikan keras, lalu melihat anak-anak Gen Z punya cara pandang cinta yang berbeda. Mereka berani bicara soal perasaan, berani menuntut kesetaraan, dan kadang terlihat lebih rasional dalam hubungan. Tapi justru di situlah ujian bagi orang tua: apakah kita bisa percaya pada cara baru mereka mencintai?
Saya teringat scene di film Finding Nemo. Marlin, sang ayah ikan badut, begitu takut melepas anaknya berenang jauh. Dunia laut penuh bahaya, pikirnya. Tapi akhirnya, ia sadar: anak tidak bisa selamanya bersembunyi di balik sirip ayahnya. Ada saatnya ia harus berenang dengan kekuatan sendiri.
Begitulah rasanya jadi ayah hari ini. Antara ingin terus melindungi, tapi juga harus rela memberi ruang agar putrinya berani memilih jalannya sendiri.
Namun, tentu tidak bisa sekadar pasrah. Lelaki yang datang itu harus berani diuji. Bukan diuji dengan pertanyaan rumit soal ekonomi atau status sosial, tapi diuji dalam kejujuran dan kesungguhan. Apakah dia paham bahwa pernikahan bukan hanya pesta sehari, melainkan perjalanan seumur hidup? Apakah dia tahu bahwa menjaga anak saya berarti siap menjaga luka dan bahagianya sekaligus?
Saya sadar, generasi sekarang sering dianggap “serba instan.” Tapi bukankah cinta sejati tidak bisa instan? Ia perlu waktu, kesabaran, dan pengorbanan. Di titik inilah, suara ayah harus tetap terdengar: bukan untuk mengatur, melainkan untuk mengingatkan.
Pada akhirnya, setiap ayah akan sampai di persimpangan ini. Persimpangan antara menjadi pelindung atau menjadi saksi. Kita tak bisa selamanya berdiri di depan anak perempuan kita, menahan dunia yang kejam. Ada saatnya kita mundur selangkah, memberi ruang bagi lelaki lain untuk berdiri di sisinya.
Tentu berat, tapi bukankah hidup memang kumpulan kepergian? Dari pertama kali dia sekolah, pertama kali dia bilang “Ayah jangan ikut masuk kelas,” sampai nanti dia berkata, “Ayah, dia ingin melamarku.” Semua itu bagian dari seni kehilangan yang manis.
Malam ini, saya menulis sambil menatap foto lama: dia mungil, menggenggam jari saya saat belajar berjalan. Rasanya baru kemarin. Dan sekarang, mungkin ada seseorang yang siap menggenggam tangannya lebih erat daripada saya.
Maka jika esok lelaki itu datang membawa niat baik, saya akan menatap matanya dan bertanya satu hal sederhana: “Bisakah kau menjaga gadis ini lebih baik dari saya?”
Jika jawabannya tegas, jujur, dan tulus, maka saya akan mencoba ikhlas. Karena tugas seorang ayah bukan melarang, tapi merestui. Bukan menahan, tapi merelakan.
Dan ketika tiba hari itu, saya akan berdiri, menggenggam tangannya sekali lagi, lalu melepaskan. Dengan doa yang tak pernah habis, dengan cinta yang tak pernah padam. Sebab bagi seorang ayah, gadis kecilnya mungkin akan menikah, tapi di hati… ia tetap pulang.
Lepas bukan berarti hilang, restu adalah bentuk sayang. Gadis kecilku kini dewasa, semoga bahagia di setiap langkahnya.(***)