Saya datang ke ruangan itu dengan niat sederhana: berbagi pengalaman soal teknik dasar membuat dokumenter. Anak-anak komunitas pencinta alam duduk melingkar, sebagian siap dengan catatan, sebagian lain menyalakan perekam suara di ponsel mereka. Saya mulai dengan hal-hal ringan: cara mencari angle cerita, bagaimana membangun alur, sampai trik merekam suasana alam biar terasa hidup di layar.

Tiba-tiba, sebelum sesi tanya-jawab dimulai, seorang peserta mengangkat tangan sambil menunjukkan layar ponselnya. “Pak, ini ada berita baru. Katanya udang dari Cikande ditolak ekspor ke Amerika gara-gara kena radiasi. Apa betul?” Suasana ruangan langsung berubah. Saya ikut menatap layar itu, membaca sekilas berita yang baru saja muncul.
Seketika kami semua tersadar: udang, simbol pangan dan hasil kerja keras petambak, ditolak dunia internasional karena mengandung sesuatu yang tak terlihat mata — cesium-137. Saya jelaskan bahwa cesium-137 atau Cs-137 adalah isotop radioaktif hasil dari fisi nuklir, yaitu proses pecahnya inti atom uranium atau plutonium di reaktor maupun dari ledakan senjata nuklir. Bentuknya berupa logam yang mudah larut dalam air, dan ketika masuk ke lingkungan bisa menempel pada tanah, air, bahkan jaringan tubuh makhluk hidup. Radiasi yang dipancarkan Cs-137 adalah beta dan gamma, yang mampu menembus jaringan tubuh dan merusak sel. Jika terhirup atau tertelan, Cs-137 bisa menumpuk di otot dan jaringan lunak, meningkatkan risiko kanker serta gangguan kesehatan jangka panjang. Yang membuat zat ini menakutkan adalah usia paruhnya sekitar tiga puluh tahun, artinya butuh waktu puluhan tahun sebelum tingkat radioaktifnya berkurang separuh.
Saya sampaikan ke teman-teman, satu kontainer udang beku dari Cikande ditolak karena terdeteksi mengandung Cs-137 sekitar enam puluh delapan becquerel per kilogram. Angka ini memang di bawah ambang batas maksimum yang ditetapkan FDA Amerika, tetapi tetap saja menjadi sinyal bahaya karena menunjukkan adanya kontaminasi di rantai pangan. Lebih mengejutkan lagi, investigasi juga menemukan Cs-137 menempel di blower atau ventilator fasilitas pengemasan udang. Bahkan ada dugaan sumber utama kontaminasi berasal dari logam bekas yang digunakan industri di kawasan Modern Cikande.
Kebingungan langsung muncul. Indonesia tidak punya reaktor nuklir komersial, jadi dari mana cesium-137 itu datang? Dugaan sementara mengarah pada scrap metal impor yang terkontaminasi atau kemungkinan ada industri yang memakai sumber radioaktif untuk pengukuran dan kemudian membuangnya sembarangan. Apa pun jawabannya, jelas ada kelalaian serius.
Saya lalu mengaitkan kembali ke materi dokumenter. Saya bilang, “Inilah kenapa dokumenter penting. Isu seperti ini butuh orang yang bisa mengangkatnya dengan jernih, bukan sekadar menyalin rumor. Dokumenter bukan sekadar kamera dan suara, tapi keberanian mencari tahu bagaimana limbah radioaktif bisa masuk ke rantai pangan, apa dampaknya bagi warga, dan bagaimana suara mereka yang tiba-tiba kehilangan rasa aman.”
Salah seorang peserta bertanya, “Kalau bikin dokumenter tentang ini, apa yang harus ditonjolkan, Pak?” Saya jawab, “Tonjolkan manusianya. Jangan berhenti di angka radiasi. Ceritakan ibu-ibu yang takut air sumurnya, petambak yang hasil panennya ditolak, anak-anak yang tidak lagi boleh main di dekat lahan industri. Dokumenter itu soal rasa, bukan sekadar data.”
Saya juga menambahkan bahwa kasus semacam ini bukan hal asing di dunia. Jepang setelah tragedi Fukushima harus menghadapi kenyataan radiasi menyebar ke laut dan hasil tangkapan nelayan. Ukraina dengan Chernobyl memperlihatkan bagaimana radiasi bisa meninggalkan jejak panjang hingga puluhan tahun. Bahkan di Eropa, kasus scrap logam terkontaminasi cesium-137 pernah terjadi dan langsung memaksa pemerintah menarik serta menghancurkan bahan itu sebelum dipakai lebih jauh.
Ruangan itu hening. Saya menutup materi bukan dengan teori kamera, tapi dengan kalimat yang terasa lebih mendesak. Saya bilang, “Alam tidak pernah diam. Ia memberi tanda dengan cara yang kadang halus, kadang keras. Hari ini, lewat kasus udang yang ditolak karena radioaktif, kita diberi peringatan. Keserakahan manusia bisa menyusup sampai ke piring makan kita. Kalau kita abai, bukan cuma ekspor yang hilang, tapi masa depan yang kita gantungkan pada tanah dan laut bisa hancur dalam senyap.”
Beberapa anak muda di ruangan menunduk, sebagian lain mengangguk pelan. Kami semua tahu, sore itu kami tidak hanya belajar cara membuat dokumenter, tetapi juga sedang menerima pelajaran pahit: ada bahaya yang bersembunyi di tanah sendiri. Dan tugas kita, sekecil apa pun, adalah merekam, menyuarakan, sekaligus mengingatkan sebelum terlambat.(***)