Rindu yang Tak Punya Wajah

Sejak kecil, anak itu tumbuh bersama bayangan yang tak pernah memiliki bentuk. Ia tahu ada sosok yang seharusnya memegang tangannya di jalan hidup, tapi entah kenapa, hanya bayang-bayang yang datang menggantikan. Ayah baginya bukan manusia, melainkan kabut—ada, tapi tak bisa digenggam.

Di setiap pagi, ia mencari sosok itu di antara pantulan cermin. Ia menatap matanya sendiri, berharap menemukan sepotong tatapan yang mirip milik seseorang yang hilang di antara waktu. Kadang ia merasa, darahnya membawa rahasia yang tak bisa diceritakan. Rahasia tentang lelaki yang namanya terucap lirih, tapi tak pernah benar-benar dipanggil pulang.

Ia tumbuh seperti pohon yang mencari matahari di balik dinding tinggi. Setiap kali ia melihat anak lain tertawa di pelukan ayahnya, dadanya terasa seperti kaca yang retak halus. Ia tidak menangis, tapi setiap retakan itu menampung rindu yang tak punya tempat pulang.

Dalam imajinasinya, ayah adalah cahaya yang menetes dari sela-sela atap rumah. Kadang hangat, kadang samar, kadang hilang sebelum sempat disentuh. Ia menciptakan sosok itu dari sisa-sisa harapan: tangan yang kuat, langkah yang mantap, suara yang bisa menenangkan badai. Tapi semua itu hanya lukisan di udara—indah, tapi tak berwujud.

Ibunya jarang menyebut nama itu. Setiap kali seseorang bertanya, udara di sekitarnya menjadi dingin. Seperti ada musim lain yang tiba-tiba datang. Maka anak itu belajar diam. Ia belajar membaca kesedihan ibunya lewat cara mata menunduk, lewat senyum yang tak pernah penuh. Dari situ ia tahu, beberapa cerita memang lebih baik disimpan dalam lipatan hati, bukan diucapkan.

Malam-malamnya selalu berisi percakapan dengan angin. Ia berbicara dengan langit, dengan bulan, dengan bintang-bintang yang mungkin pernah juga mendengar nama ayahnya. “Apakah dia juga melihat langit yang sama?” begitu katanya pelan, sebelum akhirnya tertidur dengan kepala penuh tanda tanya.

Ketika remaja, ia mulai paham bahwa kehilangan bisa menjadi rumah yang aneh. Kadang sepi, tapi di dalamnya ia merasa aman, karena sudah terbiasa. Ia berhenti bertanya di mana ayahnya, tapi mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah aku cukup kuat tanpa tahu dari mana separuh diriku berasal?

Hari-hari berjalan seperti arus sungai yang tak pernah kembali ke sumbernya. Ia belajar hidup tanpa peta, tanpa bintang penunjuk arah. Tapi setiap kali menghadapi dinding kehidupan yang keras, ia menemukan sesuatu yang tak disangka: keberanian. Mungkin, pikirnya, keberanian itu adalah warisan dari seseorang yang tak sempat mengajarkannya langsung.

Ia tumbuh menjadi lelaki yang menatap dunia dengan tenang, tapi di balik matanya masih tersisa hujan yang belum reda. Ia jarang membicarakan ayah, tapi setiap kali hujan turun, ada getar kecil di dadanya. Seperti alam bersekongkol mengingatkannya pada seseorang yang dulu pernah ada, lalu lenyap tanpa pamit.

Ketika dewasa, ia tak lagi mencari wajah itu. Ia hanya menyimpan sosok ayahnya dalam bentuk yang lebih halus—seperti bau tanah setelah hujan, seperti nada yang hilang di ujung lagu. Ia mulai mengerti, beberapa cinta memang diciptakan untuk hadir dalam ketidakhadiran. Beberapa rindu justru tumbuh dari kehampaan.

Suatu malam, ia menulis surat. Bukan surat untuk dikirim, hanya selembar kertas yang ingin menampung apa yang tak pernah sempat diucapkan:

“Ayah, aku tak mengenalmu, tapi aku hidup dengan bayanganmu. Kau mungkin hanya setetes air di awal hidupku, tapi tetes itu cukup untuk menumbuhkan seluruh diriku. Aku tidak membencimu, sebab tanpa kepergianmu, mungkin aku takkan belajar tentang bertahan.”

Surat itu dilipatnya rapi, lalu diselipkan di antara halaman buku yang tak pernah ia pinjamkan. Di sana, antara huruf-huruf dan diam, ia menemukan sesuatu yang selama ini dicari: ketenangan.

Ia sadar, ruang kosong di hatinya bukan luka, tapi taman sunyi tempat rindu beristirahat. Ia tak lagi berusaha mengisinya. Ia membiarkan ruang itu tetap terbuka, agar cahaya bisa menembus masuk setiap kali pagi datang.

Dan di bawah cahaya itu, bayangan sang ayah perlahan tidak lagi menyakitkan. Ia berubah menjadi siluet lembut yang berjalan di tepi pikirannya—tidak untuk ditemukan, hanya untuk diingat.

Kini, setiap kali ia menatap anak kecil yang tertawa di pangkuan ayahnya, senyumnya tidak lagi pahit. Ia tahu, beberapa takdir memang lahir dengan kekurangan, tapi bukan berarti tak indah. Ia tahu, tak semua sosok harus nyata untuk bisa dicintai.

Sebab ada cinta yang tak memerlukan pertemuan, ada rindu yang justru tumbuh di dalam ketidakhadiran. Dan dari segala hal yang tak sempat ia miliki, ia justru menemukan satu hal paling berharga: kemampuan untuk mencintai tanpa syarat, bahkan pada bayangan yang tak punya wajah. (***)

Leave a Reply